Tentang Saya

Foto saya
Saya adalah orang yang tidak membedakan kelas atau tingkatan hidup, bergaul dengan siapa saja- namun lebih merasa nyaman berada di sekitar orang biasa (Tiyang Alit/Wong Cilik)

Ingin Penghasilan Tambahan Dollar/Rupiah? Daftar Gratis, Jadilah Pengikut Iklan ini Starklik




Do you want Earn money online, please click banner below for free (GRATIS) TRULLY:

readbud - get paid to read and rate articles

Pengikut

Mohon Isi Buku Tamu


ShoutMix chat widget
Tampilkan postingan dengan label Jangan Melupakan Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jangan Melupakan Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2009

Ayahanda dan Guru yang sangat kami cintai


Tanggal 9 April 2009 yang lalu tepat 11 tahun, hari wafatnya (Haul) Ayahanda dan sekaligus guru tercinta KH Sa'ad Syamlan. Beliau-lah sejatinya KIYAI CERET yang menjadi insiprasi penamaan blog Kiyai Ceret, wafat tanggal 9 April 1998 di Makkah Al Mukarromah dan dimakamkan di pekuburan Ma'la Makkah Saudi Arabia.

Tegur sapa dan nasihatnya menyenangkan dan menyejukkan hati sanubari. Curahan kasih sayang, dan perhatiannya tak dapat dinilai dengan apapun.

Dalam lingkungan keluarga, beliau adalah juru penengah yang adil bagi kedamaian keluarga.
Teladan kami, yang dengan tekad bulat selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi Agama, Negara , Masyarakat serta keluarga.
Dalam kehidupannya selaku da'i beliau pernah berucap :
" Seorang da'i baru disebut sakit dan berhenti berda'wah bila dari mulutnya sudah tidak dapat terucap sepatah katapun"
Pesan beliau yang tak kami lupakan :
"Hidup ini tidak mudah, tetapi jangan karena itu kamu takut untuk menjalani kehidupan ini. Yang penting harus diingat bahwa dalam urusan dunia hendaknya selalu memandang ke bawah agar kamu menjadi manusia yang Syukur Ni'mah. Sedangkan dalam urusan akhirat hendaknya kamu memandang ke atas agar kamu tidak lupa diri atas keberhasilan dan kadar ketaqwaan-mu. Dalam kehidupan ini pegang teguhlah prinsip hidup yang kamu yakini kebenarannya dan jangan mudah terombang-ambing dengan bujuk rayu".
Tegur sapa, nasihat dan tindakannya selama hayat, selalu kami kenang sebagai penyejuk hati, pemacu semangat dan panutan bagi langkah di masa datang.

Tiada lagi yang dapat kami berikan sebagai balasan atas semua yang telah beliau berikan kepada kami, kecuali iringan do'a. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kami dengan curahan Hidayah, dan Inayah sehingga dapat melanjutkan harapan dan semangat juangnya.
Amiin Yaa Robbal Alamiin.

Sabtu, 13 Juni 2009

Sejarah Keluarga

Keberadaan suku Arab-Indonesia sebagai Warga Negara Indonesia merupakan anak keturunan dari perkawinan campuran antara etnis Arab dan etnis pribumi Indonesia.

Kedatangan leluhur suku Arab-Indonesia dari Hadramaut ke Indonesia diperkirakan terjadi sejak abad pertengahan (abad ke-13), dan hampir semuanya adalah pria.

Tujuan awal kedatangan mereka adalah untuk berdagang sekaligus berdakwah, dan kemudian berangsur-angsur mulai menetap dan berkeluarga dengan masyarakat setempat.
Dari perkawinan campuran tersebut melahirkan keturunan arab-Indonesia yang jumlahnya semakin banyak dan sampai hari ini tercatat memiliki pengaruh signifikan dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan maupun peran serta dalam pembangunan nasional.

Pada mulanya mereka umumnya tinggal di perkampungan Arab yang tersebar di berbagai kota di Indonesia -- misalnya di Jakarta (Pekojan), Bogor (Empang), Surakarta (Pasar Kliwon), Surabaya (Ampel), Gresik (Gapura), Malang (Jagalan), Cirebon (Kauman), Mojokerto (Kauman), Yogyakarta (Kauman) dan Probolinggo (Diponegoro) -- serta masih banyak lagi yang tersebar di kota-kota seperti Palembang, Banda Aceh, Sigli, Medan, Banjarmasin, Makasar, Gorontalo, Ambon, Mataram, Kupang, Papua dan bahkan di Timor Timur.

Berdasarkan informasi dari almarhum ayah dan pelajaran di sekolah-sekolah dikatakan bahwa pada jaman pendudukan Belanda, kaum keturunan arab di Indonesia dianggap sebagai bangsaTimur Asing bersama dengan suku Tionghoa-Indonesia dan suku India-Indonesia, tapi seperti kaum etnis Tionghoa dan India, tidaklah sedikit yang berjuang membantu kemerdekaan Indonesia.


Selain di Indonesia, warga Hadramaut ini juga banyak terdapat di Oman, India, Pakistan, Filipina Selatan, Malaysia, dan Singapura.
Dari penelusuran di internet keluarga syamlan selain di Yaman dan Indonesia, juga tersebar di negara-negara lainnya seperti Saudi Arabia, Afrika dan Malaysia.
Saat ini diperkirakan jumlah keturunan Arab Hadramaut di Indonesia lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah mereka yang ada di tempat leluhurnya sendiri.
Bahkan sejumlah marga yang di Hadramaut sendiri sudah punah, tetapi di Indonesia jumlahnya masih cukup banyak.

Menurut cerita dari almarhum ayah dan keluarga lainnya, leluhur keluarga syamlan di Madura masih ada hubungannya dengan keluarga syamlan dari Afrika dan Malaysia (Pulau Penang), tapi sampai hari ini belum ada keluarga yang menelusuri informasi ini lebih lanjut karena keterbatasan informasi.
Ada informasi dari Sahabat
Nabiel A.Karim Hayaze', BIN SYAMLAN شملان merupakan Fam Pecahan dari keluarga At Tamimi dari Bani Dzinnah, kediaman aslinya ada di daerah Nwahi Seyoun di Wadi Hadramaut. Dan yang paling terkenal dari keluarga ini adalah Faishol Bin Syamlan. Mentri Perminyakan terdahulu dan juga anggota DPR Yaman. (Ma'jam Buldan wal Qaba'iel Yamaniyah).

Mari Buat Jaringan Blogger/Website disini

Page Rank

Powered by  MyPagerank.Net

Daftar Isi


 

Design by Amanda @ Blogger Buster